Minggu, 13 Desember 2015

Berbuat Kebaikan Itu Menyenangkan

Hallooooo temannnn......
Sebelumnya saya mendapat tugas untuk melakukan kebaikan, yaitu berkunjung ke panti ABK. Nah kali ini saya melakukan tugas kebaikan yang lainnya, yakni tugas kebaikan seiman. Apa itu? Ini adalah tugas kelompok bersama teman teman yang mempunyai agama yang sama. Kebetulan sekali agamaku Islam, jadi saya dan teman teman mempunyai rencana untuk membersihkan mushola.

Kami membersihkan mushola di samping rumah teman saya, tepatnya berada di daerah depok, Semarang. Kesan pertama kali melihat mushola ini sedikit terkejut, karena keadaan mushola yg kurang terawat. Keadaan lantai yang kotor, karpet dan rak berdebu, serta barang barang di lemari yang berantakan. Nah disini kami membagi tugas, kebetulan saya dan ke 4 teman saya mendapat bagian membersihkan Ruangan dalam mushola, dan sebagian membersihkan kamar mandi dan luar mushola.
Berikut kegiatan yang kita lakukan :




 Nah tak sulit untuk melakukan kegiatan kebaikan tho? Mari kita melakukan berbagai kebaikan entah apapun itu :) .Kebaikan juga tak selalu harus berbentuk sesuatu yang terlihat.


Runita Deviance Sayangbati
15.E1.0099
Gregorius Daru Wijoyoko

Sabtu, 12 Desember 2015

Berbagi dan Menolong Sesama

Beberapa waktu yang lalu saya beserta teman teman mendapat tugas kebaikan. Dalam tugas ini kami berkesempatan untuk berkunjung ke panti asuhan cacat ganda. Tempat ini diberi nama School Of Life yaitu tepat nya berada di daerah puri anjasnara. Kami disambut baik oleh penghuni panti asuhan ini. 

Saat kami tiba di panti asuhan ini tepat sekali mereka sedang melakukan kegiatan makan malam. Kamipun ikut serta dalam acara ini. Namun, sebelum memulai acara makan malam mereka tak lupa berdoa bersama, dan salah satu dari mereka memimpin doa. Setelah berdoa ,makanan satu persatu dibagikan, mereka pun antri dengan tertib. Nah disini saya mendapat tugas untuk menyuapi makan untuk seorang adik yang mempunyai cacat fisik dan mental. Walaupun dia terkadang memberontak untuk disuapi,mungkin karena dia belum terbiasa dengan kami. Tetapi disisi lain mereka senang oleh kehadiran kami. Mereka merasa ada yg memperhatikannya . Anak anak disini membutuhkan perhatian lebih dari kita, sebisa mungkin kita memberi perhatian, kasih sayang maupun semangat. 

Sebagian besar anak anak berkubutuhan khusus ini dititip kan oleh orang tuanya. Mereka diajarkan untuk saling membantu dalam sesamanya. 
Setiap pertolongan yang kita berikan adalah benih yang kita tanam, suatu saat akan menhasilkan buah yang manis dan memberikan kita kebahagiaan. 



Sempat beberapa waktu sebelumnya saya mengeluh akan hidup saya. Namun setelah berkunjung di panti asuhan ini, saya mengerti bagaimana arti hidup. Dan disini saya menjadi lebih bersyukur atas kenikmatan yang diberikan oleh Tuhan kepada kita. Karena diluar sana  masih banyak orang yg tidak seberuntung kita.


Runita Deviance Sayangbati
15.E1.0099
Gregorius Daru Wijoyoko

Minggu, 29 November 2015

Apakah Islam Mewariskan Kekerasan? Tidak! karena Ahlakul Karimah dan kehalusan perangai merupakan landasan utama ajaran Rasulullah saw.





Tengah merosotkah mutu kehidupan Bersama dalam masyarakat religius Indonesia yang majemuk belakangan ini? Tentu pertanyaan ini bukanlah sebentuk pertanyaan retoris. Setiap insan yang mengaku dirinya beragama meskipun hanya tercantum dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP) harus segera menjawabnya Bahkan, Bagi banga ini tingat kesegeraannya sudah mencapai taraf “emergency”.
Bukankah semenjak kecil kita selalu dicekoki betapa tolerannya masyarakat Indonesia, Betapa “Bhineka Tunggal Ika”-nya perikehiduapan kita? Namun yang terjadi belakangan seolah membuyarkan klaim tersebut. Bukankah aksi-aksi terorisme, pengusiran warga waraga Syiah di Sampang, perusakan mesjid Ahmadiyah di berbagai tempat, Penutupan geraja selalu mengatasnamakan Agama? Dan tanpa tedeng aling-aling simbolnya? Apalagi tak jarang tindakan destruktif tersebut dilakukan sebagaian suadara-saudaraku yang mengaku muslim.

Mengorelasikan praktek-praktek intoleransi dengan ajaran Islam ibarat pepatah “jauh panggang dari api” sebuah klaim yang tidak ada presedennya sedikitpun dalam ajaran Junjungan kita tercinta Rasulullah saw. Kekerasan dan Islam adalah dua hal yang bertentangan secara diamentral.
Ahlakul Karimah dan kehalusan perangai merupakan landasan utama ajaran Rasulullah saw. Hal ini bertolak belakang dengan kehidupan masyarakat Arab jahiliyah yang keras pada waktu itu. Untuk itulah belaiu diutus, “innama bu’istsu ilutamimma makarimal akhlaqaa,”– Aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan ahlak.
Kedatangan Islam membawa revolusi besar, tidak saja bagi bangsa Arab jahiliyah namun semesta alamnya. Tidak seperti sekarang, ketika sebagian orang dihinggapi phobia terhadap kata “revolusi” karena selalu diidentikan dengan peristiwa berdarah darah. Sebaliknya Rasulullah saw membuktikan betapa yaris tanpa ada pertumpahan darah ketika peristiwa Futuh Makkah. Sesungguhnya jika beliau Saw. telah menciptakan suatu langit dan bumi baru melalui revolusi yang di bawanya.
Jika peristiwa destruktif yang dipertontonkan sebagai yang mengaku beragama Islam hari-hari ini jauh dari landasan Islam yang hakiki. Dan semestinya tindakan-tindakan tersebut tidak dijadikan tolok ukur untuk menghakimi ajaran Islam keseluruhan. Secara logika, jika agama itu menjadi itu menjadi sumber kezaliman, maka seharusnya pemimpin atau pemuka agama itu sendiri-lah yang paling penganiaya.
Namun, sejarah menunjukan kepada kita dengan gamblang, sosok Rasulullah Saw merupakan sosok Insan Kamil yang selalu menekankan welas asih dan mengedepankan akhlak mulia kepada sesama manusia, baik muslim maupun non muslim. Tidaklah aneh pujangga Barat terkemuka George Bernard Shaw mengatakan, “He (Muhammad) must be called the savior of Humanity.” 

Runita Deviance Sayangbati
15.E1.0099
Gregorius Daru Wijoyoko


Jumat, 30 Oktober 2015

Ishlah, Mendamaikan Konflik dalam Islam



Ishlah merupakan mekanisme penyelesaian konflik yang ditawarkan oleh al-Quran. Pada dasarnya setiap konflik yang terjadi antara orang-orang yang beriman harus diselesaikan dengan damai (ishlah). Ishlah adalah suatu cara penyelesaian konflik yang dapat menghilangkan dan menghentikan segala bentuk permusuhan dan pertikaian antara manusia. 

Secara bahasa, Ishlah dapat disamakan dengan damai, namun kata ishlah lebih menekankan arti suatu proses perdamaian antara dua pihak. Ishlah mengisyaratkan diperlukannya pihak ketiga sebagai perantara atau mediator dalam penyelesaian konflik tersebut. 

Allah berfirman dalam surat al-Hujurat ayat 9: Dan jika ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah. Jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Alah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil

Surat al-hujurat ayat 9 merupakan landasan dan sumber penyelesaian konflik yang terjadi diantara orang-orang yang beriman, yaitu apabila mereka terlibat konflik selesaikanlah dengan damai (faashlihu). 

Cara Ishlah ini kemudian berkembang menjadi mekanisme penyelesaian sengketa di luar pengadilan yang dewasa ini dipraktekkan pengadilan di Indonesia melalui mediasi. “al-Hasan bin Ali al-Hilal meriwayatkan hadits kepada kami, dari Abu Amir al-Aqdi, dari Katsir bin Abdullah bin ‘Amr bin Auf al-Muzni, dari ayahnya, dari ayah-ayahnya (kakeknya), dari Rasulullah SAW bersabda: “Umat Islam boleh berdamai (dengan orang kafir) dengan syarat yang mereka ajukan, kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau sebaliknya.”
 
Abu Isa berpendapat bahwa Hadits ini tergolong Hasan-Shoheh. Ayat di dalam surat al-Hujurat dan hadis di atas merupakan landasan di dalam penyelesaian konflik dan perselisihan. Dalam hadis tersebut dinyatakan bahwa menyelesaikan konflik dengan perdamaian adalah boleh dan sangat dianjurkan untuk kebaikan dan keutuhan persaudaraan sesama muslim asalkan tidak untuk menghalalkan yang haram dan sebaliknya tidak mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah dan rasul-Nya. 

Mengupayakan perdamaian bagi semua muslim yang sedang mengalami konflik, perselisihan dan pertengkaran dinilai ibadah oleh Allah. Namun tidak dianjurkan perdamaian dilakukan dengan paksaan, perdamaian harus karena kesepakatan para pihak. Dalam hal ini Imam Malik pernah berkata bahwa dia tidak sependapat jika hakim memaksa salah satu pihak yang berperkara atau mengenyampingkan permusuhan salah satu pihak, karena semata-mata hanya menginginkan perdamaian.



Runita Deviance Sayangbati
15.E1.0099
Gregorius Daru

4 Manfaat Agama bagi Kehidupan Manusia


Manfaat agama dalam kehidupan manusia berpengaruh dalam banyak aspek, bukan hanya dalam aspek kerohanian saja. Menilik kembali dari awal, agama merupakan kata serapan dari bahasa sansekerta yang berarti tidak kacau, jadi maksud dari agama adalah aturan yang membimbing manusia menuju kedalam keberaturan.
Ada beberapa  manfaat agama yang dapat diperoleh manusia yaitu antara lain sebagai berikut :

  1. Memberikan Manusia Tuntunan dan Ajaran Hidup
Manusia tanpa agama merupakan manusia yang tidak memiliki tujuan. Dalam ajaran agama, manusia dituntun agar beribadah dan melakukan kebaikan dalam hidup, baik antar sesama manusia maupun dengan alam. Manusia diajarkan oleh agama untuk saling tolong menolong antar manusia, saling toleransi dalam menerima keberagaman dalam manusia baik berdasarkan suku, agama, ras dan kelompok. agama juga mengajarkan manusia untuk tidak melakukan hal yang merugikan orang lain maupun lingkungan sekitarnya.
Agama berguna dalam kebudayaan, agar manusia tidak akan kembali menjadi makhluk primitif yang hanya memiliki tujuan bertahan hidup dan berkembang biak tanpa memiliki orientasi untuk berkembang.

  1. Memberi Jawaban Tentang Hal yang Tidak Dapat Dijawab oleh Manusia
Agama merupakan sumber tatanan hidup dan pengetahuan manusia. Di dunia ini terdapat banyak hal dan kejadian yang tidak mampu dijawab dengan keterbatasan yang ada pada manusia. Misalnya pertanyaan seperti kemanakah jiwa manusia setelah raganya mati? Untuk apa manusia ada di dunia ini? Untuk apa manusia hidup dengan berbagai cara namun akhirnya harus mati?
Pertanyaan pertanyaan tersebut tentu sulit untuk dijawab manusia dengan keterbatasan pikiran yang ada. Agama memberikan jawaban jawaban dari pertanyaan yang tidak dapat ditemukan oleh nalar manusia. Agama akan membimbing manusia untuk menemukan hakikat hidup dari setiap manusia merupakan salah satu dari banyak manfaat agama.

  1. Mengenalkan pada Hal yang Buruk Dan Baik
Pada dasarnya, manusia ingin memperoleh semua hal yang ada di dunia ini karena nafsu yang ada dalam masing masing diri manusia. Segala cara tentu akan dilakukan untuk mendapatkan hal yang diinginkan.
Dengan adanya agama dan ajaran ajaran yang ada dalam agama, manusia dapat mengetahui mana hal yang boleh dilakukan dan mana hal yang tidak boleh dilakukan. Aturan aturan dalam agama, adalah mengatur mana hal yang boleh dan mana yang tidak boleh dilakukan oleh manusia.
Sedangkan larangan dalam agama bertujuan agar manusia tidak merugikan diri sendiri, merugikan orang lain ataupun merugikan makhluk hidup lain dalam rangka memperoleh hal yang ingin dimiliki oleh manusia.

  1. Menjadi Penyeimbang Antara Fisik dan Jiwa Manusia
Menurut filsuf yunani kuno yaitu plato, manusia dilihat secara dualistik yang terdiri dari unsur raga dan jiwa. Kesehatan manusia tidak hanya dilihat dari fisiknya saja, namun dari jiwa. Agama memberikan tuntunan kepada manusia untuk dapat memperoleh ketenangan dan kematangan jiwa ketika beribadah untuk menyeimbangkan kebutuhan fisik dan jiwa manusia.
Dengan banyaknya hal yang dapat diperoleh manusia dalam mempercayai dan menjalankan aturan dan ajaran dalam agamanya, banyak aspek dalam ajaran agama yang digunakan untuk menjadi acuan dalam menentukan dasar serta hukum suatu negara.
Disadari atau tidak, banyak peraturan dalam suatu negara yang diadopsi dari peraturan agama karena dilihat dari banyaknya hal yang diperoleh dalam manfaat agama.


Runita Deviance Sayangbati
15.E1.0099
Gregorius Daru