Minggu, 29 November 2015

Apakah Islam Mewariskan Kekerasan? Tidak! karena Ahlakul Karimah dan kehalusan perangai merupakan landasan utama ajaran Rasulullah saw.





Tengah merosotkah mutu kehidupan Bersama dalam masyarakat religius Indonesia yang majemuk belakangan ini? Tentu pertanyaan ini bukanlah sebentuk pertanyaan retoris. Setiap insan yang mengaku dirinya beragama meskipun hanya tercantum dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP) harus segera menjawabnya Bahkan, Bagi banga ini tingat kesegeraannya sudah mencapai taraf “emergency”.
Bukankah semenjak kecil kita selalu dicekoki betapa tolerannya masyarakat Indonesia, Betapa “Bhineka Tunggal Ika”-nya perikehiduapan kita? Namun yang terjadi belakangan seolah membuyarkan klaim tersebut. Bukankah aksi-aksi terorisme, pengusiran warga waraga Syiah di Sampang, perusakan mesjid Ahmadiyah di berbagai tempat, Penutupan geraja selalu mengatasnamakan Agama? Dan tanpa tedeng aling-aling simbolnya? Apalagi tak jarang tindakan destruktif tersebut dilakukan sebagaian suadara-saudaraku yang mengaku muslim.

Mengorelasikan praktek-praktek intoleransi dengan ajaran Islam ibarat pepatah “jauh panggang dari api” sebuah klaim yang tidak ada presedennya sedikitpun dalam ajaran Junjungan kita tercinta Rasulullah saw. Kekerasan dan Islam adalah dua hal yang bertentangan secara diamentral.
Ahlakul Karimah dan kehalusan perangai merupakan landasan utama ajaran Rasulullah saw. Hal ini bertolak belakang dengan kehidupan masyarakat Arab jahiliyah yang keras pada waktu itu. Untuk itulah belaiu diutus, “innama bu’istsu ilutamimma makarimal akhlaqaa,”– Aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan ahlak.
Kedatangan Islam membawa revolusi besar, tidak saja bagi bangsa Arab jahiliyah namun semesta alamnya. Tidak seperti sekarang, ketika sebagian orang dihinggapi phobia terhadap kata “revolusi” karena selalu diidentikan dengan peristiwa berdarah darah. Sebaliknya Rasulullah saw membuktikan betapa yaris tanpa ada pertumpahan darah ketika peristiwa Futuh Makkah. Sesungguhnya jika beliau Saw. telah menciptakan suatu langit dan bumi baru melalui revolusi yang di bawanya.
Jika peristiwa destruktif yang dipertontonkan sebagai yang mengaku beragama Islam hari-hari ini jauh dari landasan Islam yang hakiki. Dan semestinya tindakan-tindakan tersebut tidak dijadikan tolok ukur untuk menghakimi ajaran Islam keseluruhan. Secara logika, jika agama itu menjadi itu menjadi sumber kezaliman, maka seharusnya pemimpin atau pemuka agama itu sendiri-lah yang paling penganiaya.
Namun, sejarah menunjukan kepada kita dengan gamblang, sosok Rasulullah Saw merupakan sosok Insan Kamil yang selalu menekankan welas asih dan mengedepankan akhlak mulia kepada sesama manusia, baik muslim maupun non muslim. Tidaklah aneh pujangga Barat terkemuka George Bernard Shaw mengatakan, “He (Muhammad) must be called the savior of Humanity.” 

Runita Deviance Sayangbati
15.E1.0099
Gregorius Daru Wijoyoko