Tengah
merosotkah mutu kehidupan Bersama dalam masyarakat religius Indonesia yang
majemuk belakangan ini? Tentu pertanyaan ini bukanlah sebentuk pertanyaan
retoris. Setiap insan yang mengaku dirinya beragama meskipun hanya tercantum
dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP) harus segera menjawabnya Bahkan, Bagi banga
ini tingat kesegeraannya sudah mencapai taraf “emergency”.
Bukankah
semenjak kecil kita selalu dicekoki betapa tolerannya masyarakat Indonesia,
Betapa “Bhineka Tunggal Ika”-nya perikehiduapan kita? Namun yang terjadi
belakangan seolah membuyarkan klaim tersebut. Bukankah aksi-aksi terorisme,
pengusiran warga waraga Syiah di Sampang, perusakan mesjid Ahmadiyah di
berbagai tempat, Penutupan geraja selalu mengatasnamakan Agama? Dan tanpa
tedeng aling-aling simbolnya? Apalagi tak jarang tindakan destruktif tersebut
dilakukan sebagaian suadara-saudaraku yang mengaku muslim.
Mengorelasikan
praktek-praktek intoleransi dengan ajaran Islam ibarat pepatah
“jauh panggang dari api” sebuah klaim yang tidak ada presedennya sedikitpun
dalam ajaran Junjungan kita tercinta Rasulullah saw. Kekerasan
dan Islam adalah dua hal yang bertentangan secara diamentral.
Ahlakul
Karimah dan kehalusan perangai merupakan landasan utama ajaran Rasulullah
saw. Hal ini bertolak belakang dengan kehidupan masyarakat Arab jahiliyah
yang keras pada waktu itu. Untuk itulah belaiu diutus, “innama bu’istsu
ilutamimma makarimal akhlaqaa,”– Aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan
ahlak.
Kedatangan
Islam membawa revolusi besar, tidak saja bagi bangsa Arab jahiliyah
namun semesta alamnya. Tidak seperti sekarang, ketika sebagian orang dihinggapi
phobia terhadap kata “revolusi” karena selalu diidentikan dengan peristiwa
berdarah darah. Sebaliknya Rasulullah saw membuktikan betapa yaris tanpa
ada pertumpahan darah ketika peristiwa Futuh Makkah. Sesungguhnya jika beliau
Saw. telah menciptakan suatu langit dan bumi baru melalui revolusi yang di
bawanya.
Jika
peristiwa destruktif yang dipertontonkan sebagai yang mengaku beragama Islam
hari-hari ini jauh dari landasan Islam yang hakiki. Dan semestinya
tindakan-tindakan tersebut tidak dijadikan tolok ukur untuk menghakimi ajaran
Islam keseluruhan. Secara logika, jika agama itu menjadi itu menjadi sumber
kezaliman, maka seharusnya pemimpin atau pemuka agama itu sendiri-lah yang
paling penganiaya.
Namun,
sejarah menunjukan kepada kita dengan gamblang, sosok Rasulullah Saw
merupakan sosok Insan Kamil yang selalu menekankan welas asih dan mengedepankan
akhlak mulia kepada sesama manusia, baik muslim maupun non muslim.
Tidaklah aneh pujangga Barat terkemuka George Bernard Shaw mengatakan, “He (Muhammad)
must be called the savior of Humanity.”
Runita Deviance Sayangbati
15.E1.0099
Gregorius Daru Wijoyoko

Menurut ane pribadi,islam slalu mengajarkan tata cara berbuat baik dan ajaran2 lainnya(ahlak mahmudah).
BalasHapusMereka yang mengaku islam tetapi slalu berbuat mazmumah(prbuatan tdak baik yang merugikan orang lain),apa lagi niatnya untuk berperang melawan sesama muslim.yang itu mereka itu tdak bisa mengendalikan hawa napsu,dan itu pasti hatinya sudah dikuasai oleh syaitan dan iblis.
Betul sekali sering kali masyarakat pada umumnya mengait"kan teroris dqn kejahatan lain dengan islam dan dengan artikel ini mungkin mereka dapat mempertimbangkan omongannya
BalasHapusArtikelnya keren! Semoga bermanfaat
BalasHapusArtikelnya bagus
BalasHapussemoga banyak yang sadar dari hal ini
artikel yang bagus, semoga bermanfaat ya :)
BalasHapus